RSS

Cara Gila

30 Dec

Cara “Gila” Membangun Indonesia

by nino_chan38@yahoo.com

Cara “Gila” Membangun Indonesia: Pengalaman dari Tolikara  Pak Kun and

colleagues, Salam dari Jayapura! Kami bertiga baru saja keluar dari

pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific.

Hasilnya? Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara, dengan

perolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di urutan

pertama dengan 2 emas. Indonesia berada diatas China, Rusia, Kazakshtan,

Kyrgistan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Lebih mengejutkan lagi, 3

medali perunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara, kabupaten

terpencil di Tolikara, yang selama ini mengalami keterbelakangan

pendidikan dan SDM.

Dari Tolikara, Indonesia belajar!

Kisahnya dimulai dengan seorang “gila” bernama Yohanes Surya, pendiri Surya

Institute dan salah satu aktivis olimpiade science dunia, yang telah sukses

mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang olimpiade science dunia,

memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade atronomi Asia Pacific (APAO) di

Indonesia. Program ini ditawarkan ke berbagai pemda di Indonesia, namun

tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari … Yohanes Surya ketemu dengan

seorang “gila” lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati Tolikara,

pegunungan tengah Papua, kabupaten baru yang terisolir dan hanya bisa

dicapai dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena disambung

berkendaraan off-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa celana

dan perempuan tanpa penutup dada, ditemukan dimana-mana.

John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO di Indonesia, selain

menjadi tuan rumah, dia juga mendanai seluruh biaya persiapan tim olimpiade

Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari

Papua,selama 1 tahun. John Tabo membangun tempat khusus (hotel) untuk

menjadi venue olimpiade ini. Orang yang berfikir normal pasti bilang,

untuk apa John gila ini urusin Olimpiade astronomi seperti ini? bukankah

masih banyak persoalan internal kabupaten yang harus dia selesaikan? mulai

dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai infrastruktur dasar? Cari

kerjaan dan masalah saja!

John Tabo melakukan terobosan “gila”.

Dana diambil dari APBD, mau dari mana lagi? Dia tidak takut BPK atau BPKP

yang akan menilainya salah prosedur. Untuk John Tabo, membangun adalah

untuk rakyat, jangan dibatasi oleh hal-hal administratif. Yang penting

misi dia untuk membangun SDM Tolikara yang mendunia dapat tercapai, dan

itu

“breakthrough” untuk mengatasi kemiskinan Tolikara, tidak perlu menunggu

sampai infrastruktur jalan akses terbuka.

Dikumpulkanlah 15 anak Indonesia sejak februari 2010 di Karawaci untuk,

kesemuanya “gila”. 8 dari 15 anak tersebut direkrut dari SMP/SMU Tolikara,

yang semuanya memiliki kemampuan matematika yang rendah, menyelesaikan soal

matematika tingkat kelas 4 SD saja tidak mampu.

Bahkan ada yang namanya Eko, ketika ditanya 1/5 + 1/2, langsung dijawab 1/7!

Seorang anak dari Kalimantan Tengah, malah tidak diijinkan kepala sekolah

dan gurunya untuk mengikuti persiapan olimpiade ini. Guru-gurunya

mengatakan bahwa apa yang akan dia ikuti itu sia-sia saja. Dia melawan ini

dan lari dari sekolah!

Ke-15 anak ini dilatih oleh pelatih2 “gila”, yang tidak bosan dan kesal

melatih anak-anak ini. Dalam 10 bulan ke-8 anak Tolikara ini mampu

mengerjakan problem matematika paling sulit yang diajarkan pada tingkat

terakhir SMA atau tingkat awal universitas.

Pendekatan mengajarnya juga “gila”.  Astronomi adalah  kumpulan dari

berbagai ilmu science: matematika, fisika, kimia dan biologi menjadi satu

mempelajari fenomena jagad raya.

Ini juga ilmu gila. Bayangkan seorang anak seperti Eko dari pedalaman

Tolikara dapat menjadi salah seorang anak terpandai dibidang astronomi

didunia hanya dalam waktu 10 bulan??!!

Urusan ijin ternyata juga “gila-gilaan”.

Ternyata even APAO ini tidak diakui oleh Kemdiknas. Akibatnya, untuk

mendatangkan peserta luar negeri, tidaklah mungkin mendapatkan fasilitas

visa dari negara. Pake prosedur normal ijin dari Pemerintah cq Mendiknas

tidak keluar. Entah gimana ceritanya …

Surya Institute akhirnya bertemu dengan seorang “gila” dari UKP4. Orang

inilah yang mengetok Menteri Diknas, sehingga kemdiknas mau mengeluarkan

ijin. Lalu orang ini memfasilitasi ijin visa disaat-saat terakhir, ketika

semua sudah pasrah, bahkan orang ini mempertemukan

anak-anak Indonesia dengan wakil presiden RI. Orang normal mungkin akan

berfikir, apa urusannya astronomi dengan wapres??!!

Lalu siorang gila dari UKP4 ini menugaskan 3 orang anggotanya yang kebetulan

juga “agak gila” untuk datang menghadiri kegiatan olimpiade di Tolikara.

jadilah 3 orang itu sebagai satu2nya unsur pemerintah pusat dalam even

Olimpiade di Tolikara. Lalu 3 orang ini membawa-bawa nama Wakil Presiden RI

dan Kepala UKP4 untuk memotivasi anak2.

Dalam percakapan hati ke hati dengan 15 orang anak, semalam sebelum

pengumuman, tidak kurang 7 orang anak terharu menangis, melihat begitu

besarnya perhatian pemerintah RI kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah

mereka rasakan dari pemerintah di Jakarta selama 10 bulan mereka di godok di

Karawaci. Datang dan duduk bersama dengan mereka, ternyata lebih dari

segalanya bagi anak-anak ini.

Anak-anak Tolikara begitu terharu, menangis terisak, melihat ada orang

Jakarta mau datang melihat mereka di Tolikara.

Apa hasil dari semua kegilaan ini? Selain perolehan medali-medali diatas:

1. Indonesia dikenal lewat Tolikara! Tolikara, meskipun tidak dikenal

Indonesia, namun telah membuktikan kepada dunia bahwa dari tempat yang

sedikit sekali dijamah pembangunan, bisa lahir juara-juara olimpiade

science, yang akan mengharumkan nama Indonesia ditingkat dunia,

2. Tolikara mulai membenahi sumber daya manusianya menuju SDM berkualitas

dunia. Hasil olimpiade ini telah memotivasi semua anak

Tolikara bahwa keterbatasan fisik dan fasilitas bukanlah halangan bagi anak

Tolikara untuk menjadi SDM terbaik dunia. 8 anak Tolikara yang bersaing

ditingkat dunia menjadi saksi hidup bahwa SDM Tolikara dapat bersaing

ditingkat dunia.

3. Tolikara membuktikan bahwa mereka dapat membangun “lebih cepat” jika cara

berfikir “gila” ini diterapkan. Hanya dengan cara gila seperti ini

pembangunan Papua dapat dipercepat.

4. Kita perlu “A Tolikara Approach” untuk sebuah percepatan pembangunan

Papua!Pesan moral dari kisah ini: jadilah orang gila untuk membangun

Indonesia

lebih baik! Never underestimate things! Kesempatan ke Tolikara telah

memberikan pelajaran berharga bagi saya. Belajar tidak harus selalu dari

tokoh dunia. Dari seorang anak SMP yang tidak pernah diperhitungkan

dipelosok Tolikara, kita dapat belajar untuk berbuat yang terbaik bagi

Indonesia dan dunia.

*) naskah kiriman dari nino_chan38@yahoo.com pada mailinglist.beasiswa@yahoo.com

 
Leave a comment

Posted by on December 30, 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: