RSS

Ungkapan Seorang Calon Murid Pada Guru

22 Apr

Pada suatu pagi di depan kantor Sekolah, seorang calon murid tercenung dengan raut muka menyiratkan kebingungan. Disapalah ia oleh seorang guru yang kebetulan sedang tidak mengajar.

Guru   : Wahai anak muda, adakah gerangan yang engkau risaukan?

Anak  : Ah tidak bu, saya akan pulang saja.

Guru  : Lho…setidaknya saya tanya ada maksud apa hingga kau kemari?

Anak  : Wahai ibu guru, tak tahu saya bisa sampai kesini. Niat hati sih mau melihat sekolah favorit dimana saya mau

melanjutkan bulan depan.

Guru  : Oh, kelas enam-kah kamu?

Anak  : Iya bu. Tapi setelah sampai disini saya jadi ragu. Ragu akan kemampuan saya dan orangtua.

Guru  : Maksudmu?

Anak  : Ah… saya tidak percaya kalau sekolah disini bisa menerima saya dan saya

bisa belajar dengan percaya diri serta nantinya lulus dengan gemilang.

Guru  : Kenapa kamu mesti berpikiran seperti itu anak muda, bukankah kamu belum mencoba mendaftar, mencoba

belajar dan ikut ujian. Terlalu panjang pikiranmu nak.

Anak  : Memang ibu, tapi rasanya orangtua saya tidak mampu untuk membiayai sekolah di sini, lagian nilai-nilai saya

sekarang sangat meragukan.

Guru  : Nak, Sekarang kan sekolah gratis, lagian ujian kan di akhir sekolah, bukan di awal.

Anak  : Benar ibu, tapi itu kan ada tulisan sekolah gratis dipasang besar di pintu gerbang, tapi koq ada pengumuman

perkiraan jumlah sumbangan murid baru dan daftar harga seragam sekolah yang empat macam terus di

sampingnya ada pengumuman daftar kelulusan siswa dan daftar nilai mereka tinggi-tinggi sekali.

Guru  : Itu benar nak. Biaya sekolah pada Pendidikan Dasar ditanggung pemerintah seluruhnya melalui BOS.

sedangkan baju seragam itu kan mau kamu pakai sendiri kan? masak sih suruh dibayarin pemerintah juga.

Kalau masalah banyak nilai kelulusan, ya tinggal kamu perbanyak lah belajar. Apalagi ini sekolah favorit.

Anak  : Justru itu lah masalahnya Bu, kalau biaya bulanan sih mungkin orangtua saya bisa, tapi kalau biaya awal buat

seragam dan sumbangan yang berjumlah jutaan itu yang orangtua saya tidak mampu. Apalagi kalau saya

tidak lulus kelak, betapa kecewanya orangtua saya.

Guru  : Begini nak, yang penting kamu mendaftarkan diri dulu terus sekolah, ajukan beasiswa terus belajar yang rajin

biar besok lulus.

Anak  : Iya bu, tapi orangtua saya pekerja serabutan, cuma kalau ada orang yang ngongkon, terus kemarin-kemarin

saya juga rajin belajar, tapi nilainya tetap saja mengecewakan.

Guru  : Begini saja, kamu mendaftar dulu saja, soal biaya itu urusan orangtua dan lulus itu diperoleh sedikitdemi

sedikit.

Anak  : Iya bu, tapi mungkin lebih baik saya cari sekolah yang ada di pelosok saja, biasanya mereka menerima calon

murid dengan nilai yang rendah-rendah dan biaya awal lebih sedikit serta dapat diangsur.

Guru  : Oh iya nak … masak sih semua anak maunya sekolah di sini, nanti ya sekolah lain tidak kebagian murid. Terus

belajar ya nak agar kamu dapat menggapai cita-cita.

Anak  : Terimakasih ibu, mohon doa restunya.

Demikian si anak pulang dengan langkah gontai, karena sekolah yang ia cita-citakan serasa berada di awang-awang tak mungkin tergapai olehnya, tak terjangkau orangtuanya. Namun, ada satu pelajaran hidup yang ia dapatkan, “oh…pantes saja sekolah itu favorit, orangtua muridnya mampu bayar banyak di awal, pasti uangsakunya banyak, bisa beli kelengkapan sekolah ini itu, fasilitas belajar di rumah dan di sekolah lengkap, tempat belajarnya nyaman, di pusat kota, gizi terpenuhi, perhatian orangtua penuh, bisa punya sesuatu yang sangat asing bagiku yaitu benda yang diberi nama cita-cita. Sedangkan saya orangtua tidak mampu bayar seragam dan sumbangan, uang saku kadang-kadang saja itupun hanya untuk sebungkus es sirop murahan jika ada jadwal olahraga, kelengkapan sekolah hanya buku tulis dan penggaris plastik tipis 30 cm, pensil gambar tweety, karet penghapus kumal dan sepatu yang loakan yang kadang menampakkan jempol kaki. Apalagi di rumah bedeng yang pekarangannya saja milik tetangga, lampu listrik nyalur tetangga, televisi bekas 14 inchi yang byar-pet tanpa remote control, makan enak kalau ada tetangga yang ngundang ayah tahlilan, jangankan orangtua menemani belajar sedangkan nama-nama mata pelajaran saja asing baginya. Apalagi bercita-cita, mimpi indah pun aku tak pernah berani. Ya tapi saya sadar kalau hidup itu indah. Apapun yang terjadi esok saya harus berani hadapi resiko. Saya akan ikuti arus hidup ini tanpa harus hanyut dalam arus yang menyesatkan. Ya Allah, berilah aku kekuatan.”

 
3 Comments

Posted by on April 22, 2010 in Uncategorized

 

3 responses to “Ungkapan Seorang Calon Murid Pada Guru

  1. terajana

    April 27, 2010 at 2:03 am

    Iya, ya….saya sedang mengalami sekarang

     
  2. M A P Chandra 9c

    April 28, 2011 at 6:30 am

    pak bagaimana kira2 tentang nilai tahun ini ??????……..

     
    • smpn3kalibagor

      May 9, 2011 at 11:44 am

      Berharap yang terbaik, berusaha yang terbaik dan berdoa yang terbaik pasti akan mendapat terbaik pula. Amin

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: